08 June 2010

PUTRI HIJAU

Permaisuri Kerajaan (H)Aru di Deli Tua


Putri Hijau (Green Princess) adalah 'kisah' kepahlawanan (folkhero) yang dikenal dan berkembang luas, paling tidak pada dua kelompok suku yakni Melayu Deli dan Karo. Sebagai folktale, kisah Putri Hijau pada awalnya merupakan tradisi lisan (oral) milik bersama masyarakat (communal), berasal dari satu daerah (local) dan diturunkan secara informal (Toelken, 1979:31). Kisah ini memiliki sifat oral dan informal sehingga cenderung mengalami perubahan baik penambahan maupun pengurangan. Oleh karenanya, tidak mengherankan apabila dikemudian hari terdapat versi cerita yang berbeda-beda. Wan Syaiffuddin (2003) mengemukakan versi cerita dimaksud seperti: Syair Puteri Hijau (A. Rahman, 1962); Sejarah Putri Hijau dan Meriam Puntung (Said Effendi, 1977); Puteri Hijau (Haris M. Nasution, 1984) dan Kisah Puteri Hijau (Burhan AS, 1990)

Alkisah terdapat kerajaan ARU yang merupakan kerajaan Melayu yang sangat besar pada zamannya. Nama ARU muncul pertama kalinya dalam catatan resmi Tiongkok pada saat ARU mengirimkan misi ke Tiongkok pada tahun 1282 pada era kepemimpinan Kubilai-Khan. Catatan lain menunjukkan bahwa berdasarkan bukti-bukti arkeologis serta carbon dating terhadap temuan keramik, serta sebuah meriam buatan Portugis bertuliskan aksara Arab dan Karo. Juga, berdasarkan laporan kunjungan admiral Cheng Ho yang mengunjungi Pasai pada tahun 1405-1407 menyebut bahwa nama raja ARU pada saat itu dituliskan So-Lo-Tan Hut-Sing (Sultan Husin) dan membayar upeti ke Tiongkok. Kemudian, dalam "Sejarah Melayu" juga diceritakan suatu keadaan bahwa ARU telah berdiri sekurang-kurangnya telah berusia 100 tahun sebelum penyerbuan Iskandar Muda (1607-1636) pada tahun 1612 dan 1619.

Diyakini bahwa kerajaan ARU adalah kerajaan yang besar dan kuat sehingga perlu ditaklukkan oleh kerajaan Majapahit. Hal ini dapat dibuktikan dari sumpah Amukti Palapa sebagaimana yang ditulis dalam kisah Pararaton (1966), yaitu: Sira Gajah Mada patih amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah mada: "Lamun awus kalah nusantara isun amuktia palapa, amun kalah ring Guran, ring Seran, Tanjung Pura, ring HARU, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti Palapa". Hal senada juga dikemukakan oleh Muh. Yamin dalam bukunya dengan judul "Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara "(2005).

Dari penjelasan diatas diketahui bahwa berdasarkan periodeisasinya maka kerajaan ARU berdiri sekitar awal abad ke-13 yakni pasca runtuhnya kerajaan NAGUR Batak Timur pada tahun 1285. Berdasarkan bukti sejarah, Pusat kerajaan ARU yang pertama ini adalah Kota Rentang dan telah terpengaruh Islam yang sesuai dengan bukti-bukti arkeologis yakni temuan nisan dengan ornamentasi Jawi yang percis sama dengan temuan di Aceh. Demikian pula temuan berupa stonewares dan earthenwares ataupun mata uang yang berasal dari abad 13-14 yang banyak ditemukan dari Kota Rentang. Bukti-bukti ini telah menguatkan dugaan bahwa lokasi ARU berada di Kota Rentang sebelum jatuh ketangan Aceh. Catatan sejarah menunjukkan bahwa dalm rangka unifikasi kerajaan Aceh, Aceh menyerang Kerajaan Aru. Akibat serangan Aceh yang bertubi tubi ini, pusat kerajaan ARU harus berpindah pindah. Akhir abad ke-14 Pusat kerajaan Aru pindah ke Kota Rentang dengan benteng pertahanan Deli Tua (Namorambe) 10 km di selatan medan.

Adalah laskar Aceh pada masa Sultan Alauddin Riayat Syah Al Kahar yang berkuasa tahun 1537-1568, yang melakukan penyerangan. Sultan Aru saat itu meninggal akibat pengkhianatan. Selanjutnya Sultan Aceh melamar permaisuri Aru (Putri Hijau). Namun saudara saudara dari sang Putri menolak lamaran tersebut. Akibat penolakan tersebut akhirnya Aceh menyerang Aru.

Mengingat kuatnya benteng pertahanan ARU Deli Tua yang berupa kombinasi benteng buatan dan bentukan alam membuat pasukan Aceh sulit untuk melakukan serangan. Pasukan yang datang menyerang harus terlebih dahulu menyeberangi sungai, kemudian mendaki lereng bukit (benteng alam) dan akhirnya sampai di benteng bentukan manusia. Lokasi benteng sangat tepat secara strategi militer, berada diantara dua lembah serta dialiri oleh sungai. Oleh karenanya, Pasukan Aceh memerlukan energi yang cukup kuat untuk bisa sampai kepusat benteng. Menurut catatan Pinto, dua kali serangan Aceh ke Deli Tua mengalami kegagalan. Pada akhirnya pasukan Aceh melakukan taktik sogok yakni dengan memberikan uang emas kepada pengawal benteng. Dalam kisah Putri Hijau disebut bahwa pasukan Aceh menembakkan meriam berpeluru emas, sehingga pasukan ARU berhamburan untuk mencari emas. Penyogokan pasukan ARU yang dilakukan oleh pasukan Aceh, menyebabkan pasukan pertahanan menjadi lemah.

Pada tahun 1539, akhirnya ARU jatuh. Serangan Aceh yang terakhir adalah serangan yang terhebat. Pertempuran ini diberitakan merupakan pertempuran yang terhebat saat itu. Meriam kerajaan aru yang dibeli dari seorang pelarian portugis sampai terbelah (kisah meriam puntung) akibat tak henti hentinya menembak musuh. Kejatuhan benteng mengakibatkan seluruh kerajaan ARU habis dibakar dan yang tersisa hanyalah Benteng tersebut yang masih eksis hingga sekarang. Hal ini senada dengan pendapat Mohammad Said (1980) dimana peperangan yang terjadi pada masa sultan Iskandar Muda (1612-1619) tidaklah sehebat pertempuran pada masa Sultan Al-Kahar. Lagi pula, pada masa kepemimpinan Iskandar Muda, tidak terdapat suatu tulisan bahwa Melayu di pimpin oleh Sultan Perempuan.

Edmund Edwards McKinnon (2008) menulis "Aru was attacked by Aceh and the ruler killed by subterfuge and treachery. His wife fled into the surrounding forest on the back of an elephant and eventually made her way to Johor, where she married the ruling Sultan who helped her oust the Acehnese and regain her kingdom". Selanjutnya, "a sixteenth century account by the Portuguese writer Pinto states that Aru was conquered by the Acehnese in 1539 and recounts how the Queen of Aru made her way to Johor and the events that transpired thereafter".

Permaisuri kerajaan dengan laskar yang tersisa mencoba merebut Benteng, tetapi tetap gagal. Akhirnya permaisuri dengan sejumlah pengikutnya berlayar menuju Malaka dan menghadap kepada gubernur Portugis. Tetapi ia tidak disambut dengan baik. Akhirnya permaisuri menjumpai Raja Johor, Sultan Alauddin Riayatsyah II dan bersedia menikahinya apabila ARU dapat diselamatkan dari penguasaan Aceh. Akan tetapi, ARU telah dikuasai oleh Aceh akhirnya permaisuri raja ARU menikah dengan raja Johor.

 

Sumber :

Erond L. Damanik, M.Si.

Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial

Lembaga Penelitian-Universitas Negeri Medan

ipie3.wordpress.com

aneukagamaceh.blogspot.com/2009/01/putri-hijau-ratu-kerajaan-aru-deli-tua.html

 



--
-firman raharja-

3 comments:

  1. NGA LENGKAP DATAMU LAE

    ReplyDelete
  2. SALAH SEMUA DATA KAU, PERCAYA KALI KAU SAMA SEJARAWAN ASING, DATANG KAU KE MEDAN, BIAR TAU KAU CERITA SEBENARNYA, OK?

    ReplyDelete
  3. Sumber : seperti tertulis dalam post
    Saya tinggal di medan 2009 - 2012

    ReplyDelete